Kamis, 14 April 2016

Puisi 7




Rindu


Saat mata terpejam selalu ada bayang mu
Dimana selalu menghiasi malam ku
Apakah aku merindukan mu
Yang selalu ada membagi tawa
Semua seperti ilusi belaka
yang mengahantui ku semenjak kau pergi
dan aku memohon padamu cepatlah kembali wahai sang pujaan hati





Karya : Intan Permani

Puisi 6




Ibu


Seputih kapas nan lebut
Seberkas cahaya yang datang
Kau mengasihi dengan sabar
Kau merawatku dengan sabar dan tulus
Walau ku tahu aku tak bisa membalas kebaikanmu dengan yang kau inginkan
Aku tetap menyayangi mu Ibuku sayang..









Karya : Intan Permani

Puisi 5


 Misterius


Kau datang seperti angin
Dengan lembut kau sentuh hatiku 
Tapi lambat laun aku mulai menyadari
Kau siapa.. yang selalu ada disaat aku membutuhkan mu
Aku semakin bingung oleh mu
Saat ku tanya kau siapa.. kau selalu menghindar
Aku lalu berfikir bahwa, memang tak semua tanya berujung jawab.




Karya : Intan Permani

Puisi 4




SALJU


Gemuruh mulai bersaut dengan angin yang membawanya
Membawa..putih-putih kecil, lembut nan sejuk.
Kau datang dan hadir ditengah keributan alam
Kau dingin.. tapi kau berbeda dengan sifat mu yang lembut dan mudah rapuh
Sekelebat petir mengingatkan ku padamu..
Kau seperti nuansa baru dalam hidup ku.








karya : Intan Permani

Rabu, 13 April 2016

Puisi 3


Pujaan Hati




Apalah arti hidup ini tanpamu
Resah gelisah melingkupi hati
Arah tujuan ku tak menentu
Mudah bagimu melupakan, tapi sulit bagiku
Darah hatiku mengucur karena mu
Berpisah dengan mu sungguh aku tak bisa.


  

karya : Intan Permani

Puisi 2


Memory


Ruang kosong nan sunyi 

Sepanjang memori mengiringiku seperti ilusi  

Diakhiri ruang seperti mendapat taparan dipipi

Tamparan keras seperti bola voli

Bayang hilang memulai.....

Memulai pergi dari hatiku pergi

Memudar pergi dari hati.

 

Karya : Intan Permani

Senin, 11 April 2016

Cerpen Ke Dua



DENDAM SEORANG SISWA

Ting.. ting ting ting ting… ting ting ting..
Ting.. ting.. Ting.. ting…
Alunan piano terdengar sampai seluruh ruang, ditambah dengan suara petir yang menggelegar, menambah kengerian malam dan suasana Aula Sekolah. Tepat malam ini, para pihak sekolah menyelenggarakan upacara suci. Dipimpin oleh sang Master Sun dan diikuti oleh para murid beserta pengajar disini. Semakin malam suasana semakin mencengkam, banyak roh leluhur memunculkan dirinya. Memang saat ini upacara ditujukan oleh para roh leluhur, namun tak disangka, ditengah-tengah acara munculah sosok hantu wanita dengan menggunakan seragam sekolah tersebut, mungkin alunan piano itu mengundangnya kesini atau, bisa saja dia terganggu, namun bukan itu alasan sosok itu muncul. Saat semuanya khusuk mengikuti upacara ini. Para murid dan para guru dikagetkan dengan munculnya sosok tadi ditengah tengah upacara, dia membantai semua penghuni di ruang itu, termasuk para roh yang kini lebih memilih kabur kealam mereka dan hanya beberapa guru dan murid yang selamat dari penyerangan itu termasuk Master sun yang tengah mencari sesuatu diperpustakaan untuk mengalahkan sosok hantu yang menyerangnya. Akhirnya kini sosok hantu wanita berseragam sekolah ini, dipenjara dalam cermin dan cermin itu diletakkan disebelah piano.
Beberapa hari kemudian setelah kejadian mengerikan itu, ada murid yang tak sengaja memecahkan kaca itu, ia begitu takut akan hantu yang keluar dari penjaranya. Namun saat itu juga tak ada yang mencurigakan setelah kaca itu pecah. Akhirnya sang murid hanya membersihkan serpihan kaca itu, setelahnya murid itu meninggal secara tak wajar didalam asramanya setelah memainkan piano yang dulu berdekatan dengan penempatan penjara kaca itu. Tak hanya murid itu saja, beberapa kali murid yang lain juga tewa akibat memainkan piano itu.
Kejadian demi kejadian dialami oleh para murid hingga suatu ketika penerimaan murid baru, semua  menutup rahasia tentan piano itu yang berada di sekolah ini. Kini piano itu masih tetap pada tempatnya, pernah suatu ketika piano itu dipindahkan, namun ia kembali ke tempatnya lagi, dan anehnya yang memindah piano itu juga tewas.
Setelah penerimaan siswa baru dan menjalankan MOS para sisiwa belajar seperti biasa lagi. Ada salah satu yang memiliki kelebihan dari yang lain, yaitu bisa mendeteksi, melihat, merasakan, bahkan bisa berinteraksi dengan makhluk halus. Akankah ia membantu para guru untuk melenyapkan sosok hantu penunggu piano?.
KRINGG…. KRINGG
“bangun Airin.. kamu nggak sekolah !?” Tanya seorang gadis muda. “iya.. bentar lima menit lagi Far..” ucap gadis yang berada di ranjang. “oke kalau kamu gak bangun sekarang. Fiks aku tinggal.” Ucap gadis bernama Fara. Mendengar hal itu gadis yang bernama Airin langsung bangun dan menuju kamar mandi. Dan Fara yang melihatnya hanya tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya. Setelah bersiap-siap Farad dan Airin menuju sekolah baru mereka yaitu sekolah yang dikenal dengan misteri piano. “Far kamu yakin nih kalau disekolah kita ada misteri piano itu?” Tanya Airin yang kini tengah berada di dalam kelas. “benar Rin, aku juga udah liat siapa penunggu piano itu.” Ucap Fara. Ya Fara lah sisiwa yang memiliki kelebihan itu. Ia bertekat untuk membantu sekolah nya ini dari makhluk itu. “gila.. yang bener kamu?” iya serius deh. Tapi jangan bilang siapa-siapa dulu aku mau membuktikan.” Kata Fara dengan menutup buku yang tengah ia baca dan langsung menghadap kearah Airin. “oke deh aku nggak bilang dulu kesemua, tapi bener kamu mau cari tahu?” Tanya Airin. “iya bener aku mai cari tahu, kamu temenin aku ya?” pinta Fara dengan puppy eye. “hadeh.. iya deh, tapi bahaya nggak soalnya kan aku nggak bisa lihat dia. Dan kemungkinan aku nggak bisa tahu dia nyerang aku.” Ucap Airin. “emm mungkin aku bisa membuka mata batin mu.” Ucap Fara. Mereka bercakap-cakap hingga seorang guru datang, dan pelajaran pun berjalan dengan lancar.
Malam ini, setelah tadi pagi mereka membicarakan tentang hantu piano itu, Airin dan Fara bersiap-siap kembali ke sekolah untuk menelusuri adanya cerita hantu piano itu. Saat sudah didepan sekolah Fara dikagetkan dengan banyaknya mayat hidup yang tengah memita tolong pada nya dan Airin, siapa lagi kalau bukan korban dulu dan korban pembantaian hantu piano itu. “astaga.. Rin.. disini bener-bener horror !” Ucap Fara dengan melototkan matanya memandang seluruh penjuru dibelakang gerbang. “yang bener !? ahh aku gajadi ikut deh, kamu sendiri aja.” Ucap Airin yang sudah mengambil ancang-ancang untuk kabur, namun dengan sigap Fara memegang tangan Airin jadi ia tidak bisa kabur. “Aduh.. Far pleass.. lepasin tangan ku, aku gamau mati disini sumpah.” Ucap Airin dengan tatapan memohon. “ish tunggu, okey kamu nggak akan aku buka mata batinya, tapi jangan aku tinggalin sendirin !” ucap Fara sambil melepas genggaman nya. Airin hanya mengangguk dan mereka mengendap-endap memasuki sekolah.
Setelah mereka masuk, mereka langsung menuju tangga utama utuk membawanya ke lantai dua. Disana Airin yang sangat tersiksa karena beberpa kali kakinya ditarik oleh sosok tak kasat mata itu, dan Fara pun membantu nya hingga sekarang mereka tepat berada dilantai dua. “Far.. kamu dengar suara alunan piano gak?” Tanya Airin tiba-tiba. “i-iya bener, aku denger dan init uh jelas banget.” Ucap Fara Agak menutup matanya. “Far kamu kenapa nutup mata?” Tanya Airin dengan polosnya. “haduh.. mungkin kalau kamu ku buka mata batinya pasti langsung mutah.” Ucap Fara dengan tersenggal-senggal. “haduhh yang jelas dong ada apaan?” Tanya Airin yang masih bingung. “ uhh.. disini banyak korban pembantaian dulu, ini lebih parah dari yang hantu piano buat. Be-be-berapa orang yang memakai ser-ragam yang sama dengan kita, kondisinya han-hancur, isi per-perut nya keluar se-“ belum selesai bicara, omongan Fara terhenti karena mendengar suara orang mual-mual. “lohh Airin !? kamu kenapa kok mual?” Tanya Fara yang kaget dengan kondisi Airin. “ya gimana gak mual ? orang kamu cerita nya gitu.” Ucapnya sambil meneguk botol mineral bawaanya. Fara hanya meringis dan melanjutkan misi meraka.
Setelah melawati banyak korban di lorong tadi, mereka sampai di ruang tempat music, lebih tepanya piano itu berada.
HUSSSYYYY…………..
Kaki mereka kini menapak pada lantai dalam ruangan itu, seketika angin berhembus ke tengkuk mereka dan membuat mereka merinding. “uhh.. ini menyiksaku, kau tahu aku mulai merinding dengan hadirnya angin ini.” Ucap Airin dengan kesal. “hei kau bahkan bisa kesal saat situasi sedang menegang seperti ini. Dasar.” Ucap Fara. Obrolan mereka terhenti seketika, karena mendengar suara alunan piano. “ astaga… piano ini berbunti sendiri.. !!” ucap Airin dengan air muka kagetnya. “ti-tidak Airin.. pi-piano itu a-ada yang meng-gerak-kan.. !” ucap  Fara tak kalah kagetnya. “hah!? Serius? Astaga.. gimana ini !?” ucap Airin bingung. Jelas Airin tidak tahu kalau piano itu ada yang menggerakan, karena memang ia tak memiliki kelibah seperti Fara, dan ia juga tak mau dibuka mata batinya.
“Hahahahaha…” kini tawa itu terdengar dengan jelas ditelinga Airin dan Fara, mendengar itu Airin menjadi beku seketika ditempat, dan tak mampu mengatakan apapun. “huh..!! Far.. coba kek kamu deketin itu hantu nya, siapa tahu kamu dapet informasi.” Ucap Airin yang mulai takut. “yah.. a-aku gak berani, liat sosok nya aja bikin aku gak bisa jalan, apalagi nanyak ke sosok nya.” Ungkap Fara yang juga ketakutan. “ye.. kamu bilang bera-“ belum habis bicara, sosok itu mulai mendekati Airin dan Fara. “Aaaaaaaaaaa !!!”, sontak mereka berteriak ketakutan karena hantu itu kian mendekat kearah mereka dan menimbulkan pecahan barang dimana-mana, “apa yang kalian lakukan disini?!” ucap sosok itu yang didengar oleh keduanya, meskipun Airian tak melihatnya namun sosok itu memunculkan dengan suaranya. “Astaga i-itu suara hantu pe-penunggu pi-piano?!” Tanya Airin dengan wajah ketakutan dan peluh dimana-mana, sama hal nya dengan Fara, dia juga seperti Airin.
BLARRRRR….
“Aaaaaaaaaaaa!!!”
Seketika pintu tertutup dengan kencang dan menyisakan jeritan dari dua manusia yang terkurung dalam ruangan itu bersama ketakutannya. “please ak-u ke-kesini hanya in-ingin me-mengetahui kebe-rada-aan mu, si-siapa ta-tau ak-aku bi-sa bantu.” Ucap Fara kepada sosok dihadapan nya. “apa maksut kamu ingin mengetahui keberadaan ku?!” ucap sosok itu dengan murka. “bu-bukan ma-maksut kami, ka-kami ingin bertanya padamu.” Ucap Faradengan hati-hati. “hah!! Aku sudah cukup menderita untuk kau tanyai masa lalu ku!” ucap sosok itu dengan sinis. “menderita? Kenapa kau menderita?” ucap Fara yang kini berani, dan mencoba mendekati sosok itu. “ak-aku.., Kau !! tidak usah ikut campur!” ucap sosok itu dengan melempar benda disekitarnya kea rah Airin dan Fara. Fara yang mulai mengerti dengan situasi, lalu ia dengan segera menghindari serangan dari sosok itu. “tu-tunggu ! aku bisa membantumu ! tenanglah !” Ucap Fara sambil melindungi Airin yang tengah pingsan akibat penyerangan pertama. Kini sosok itu lunglai dilantai sambil menangis. Fara mulai mendekati sosok itu dengan hati-hati. “he-hei kau baik-baik saja?” ucap Fara pada sosok itu. “hiks.. hiks.. aku tidak baik-baik saja !” ucap sosok itu. “kau kenapa ?” dengan berhati-hati ia berbicara. “hiks.. aku menderita… !!” ucap sosok itu. “ceritakan padaku, siapa tahu aku bisa membantumu.” Ucap Fara. “hah!! Mana mungkin kau bisa membantuku?!” ucap sosok itu dengan sinis. “aku serius ! aku mungkin bisa membantumu.” Ucap Fara tak mau kalah. “hah ! baiklah, hiks.. kalau kau tidak bisa membantuku maka nyawamu sendiri yang akan menjadi taruhanya.” Ucap sosok itu. “ba-baiklah, sekarang apa penderitaan yang kau alami?” Tanya Fara.
“hiks.. dulu aku sisiwa disini, aku pintar, aku berbakat. Namun kelebihan yang kumiliki ini membuat kakak ku sendiri iri kepada ku, kebetulan ia juga murid disini, kakak ku beserta geng nya sering membully ku secara diam-diam. Mereka selalu membullyku setelah pulang sekolah, atau istirahat. Suatu hari sekolah ini dapat penyerangan dari sekolah lain karena sekolah mereka diinjak harga dirinya oleh sisiwa disini yang mengatas nama kan aku diajang kompetisi piano dulu. Aku yang mendengar itu shock, tentu saja bukan aku yang melakukan semua itu, itu hanya perakalan dari kakak ku yang membenci ku. Aku dicaci, aku dihina, bahkan aku dicambuk pada waktu itu juga oleh para murid disini. aku bahkan mendapat pukulan fisik sampai akhirnya aku mati, guru-guru yang melihat sempat shock dan ia takut akan kemarahan ayah ku. Mereka membuang jsad ku di sungai belakang sekolah ini dan saat itu juga sebelum aku menutup mata yng terakhir, aku dendam kepada mereka. Dan saat upacara leluhur, aku datang untuk membalaskan dendamku. Aku bantai mereka semua. Tapi aku terperangkap pada cermin yang diberi jimat oleh Master Sun, Master Sun adalah kepala sekolah yang dulu juga menjadi kepala sekolah ku. Dialah ! yang mempunyai ide untuk membuang ku kesungai. Aku ingin membunuh nya tetapi aku akan perlahan membunuhnya dengan membunuh para muridnya. Ya.. akulah penunggu piano itu. Dulu aku sering memainkanya. Jadi sekarang aku lah yang tetap harus memainkannya. Dan cara membalaskan dendam ku itu gampang, dengan menarik siap saja yang berjalan di lorong ini dengan memainkan alunan piano. Namun pekerjaan itu membuatku lupa akan tujuan ku sebernanya, yah.. dendam itu muncul setelah aku memiliki tujuan utuk dihargai dan meminta jasad ku dikubur dengan layak. Dan aku ingin Master Sun dihukum seberat-beratnya. !” ucap sosok itu sambil sesekali menangis, aku dan Airin yang tadi sudah terbangun pun ikut merasakan kesedihanya.
Keesokanya aku beserta Airin mendatangi Master Sun untuk membicarakan mengenai sosok itu, Master sun kaget dan ia menceritakan bahwa memang ia di bayar oleh kakak sosok itu untuk tutup mulut, dan mengenai pembuangan jasad itu, kakak sosok sendiri itu lah yang menyuruh Master Sun membuang di sungai. Kini Master Sun menyerahkan dirinya ke pihak berwajib, sedangkan kakak nya sendiri bunuh diri akibat dihantui oleh adiknya dan mengakibatkan kegangguan jiwa. Sekarang arwah sosok itu tenang dan tidak menggagu lagi, dan sekolah pun menjadi tentram dan tak ada lagi kasus pembullyan.

-Don’t be sitting on feelings, because the resentment could make us fall into any regrets-
°°°


Kamis, 07 April 2016

Cerpen



MY BROTHER

Musim salju di bulan Desember ini selalu membuatku kedinginan,dan mengingat kejadian yang… entahlah aku sendiri malas mengingatnya. Hari ini adalah musim salju yang sangat membosankan bagiku, kenapa? karena sekarang aku hanya bisa berada di balkon kamarku atau hanya di dalam rumah, dan hanya memandangi suasana sore dan memandangi benda putih yang dingin, ini membuatku ingin turun dan bermain diluar dengan salju yang tengah menggunung di taman sekitar rumah ku, bahkan ayunan ku saat kecil saja sudah dipenuhi oleh benda berwarna putih nan lembut itu. Tapi ku urungkan niatku untuk bermain dengan salju diluar, lataran aku telah diberitahu oleh kedua orang tua ku bahwa aku tidak dibolehkan bermain diluar saat salju tiba, apalgi sekarang kondisi fisik ku tidak memungkin kan untuk bermain ditengah cuaca sedingin es ini. Tapi aku benar-benar bosan!!. “Arghhtt….!!” Teriaku dengan nada frustasi.

Tok… Tok… Tok…

Sebuah ketukan pintu mengagetkan ku dari lamunan tadi, dan Aku bergegas masuk kembali kedalam kamar ku lalu membukan pintu kamarku. “ Kenapa lama sekali?! Apa kau baik-baik saja?” Oh God.. ternyata Kakak ku, kirain siapa. “ Aku tak apa, aku hanya bosan. Oya kapan kau kembali kerumah, biasanya kalau kau sudah bersama temanmu maka kau akan lupa pada adik cantik mu ini.” Ucap ku dengan nada pede ku, dan seketika aku mendengar tawanya yang mengisi ruangan kamar ku ini. “haha… pede sekali kamu, oya minggu depan di kampus Kakak ada lomba membuat kue, emm dari pada kamu bosan disini bagaimana kalau kita bereksperimen mebuat kue, dan kalau berhasil, Kakak akan daftar diri Kakak dan kamu untuk mengikuti lomba itu.” Ucap Kakak ku. “emm boleh deh, tapi apa bahanya sudah ada?” Tanya ku. “emm tadi sih ada beberapa, cukuplah untuk percobaan saja, dan tadi kakak lihat bahanya, kita bisa mempuat pancake.” Ucap Kakak ku. “ ohh.. oke deh kak kita buat kue yang mudah mudah dulu aja.” Ujar ku dengan semangat. “ iya Caroline sayang…” ucap kakak ku.
***
Sekarang aku berada di dapur bersama Kakak ku, dan sekarang aku tengah melihat kakak ku yang sedang menuangkan air pada wadah yang berisi bahan pancake. Sebenanrnya aku tak melakukan apapun sih disini, aku hanya melihat apa yang tengah dikerjaka oleh kakak tersayangku ini. Dan waktu kakak ku mengaduk adonan itu aku mendangar dia seperti menarik cairan yang turun dari lubang hidungnya, dan seketika itu aku mendongak menatap wajah kakak ku, betapa kaget nya aku, darahku berdesir jantung berpompa cepat aku melihat darah yang keluar dari lubang hidungnya, hmm apa aku alay? Tidak aku tidak ALAY aku khawatir pada kakak ku ini. “kakak!!.. kau mimisan..!? sudah taruh dulu adonan itu biar aku saja yang meneruskan sekarang kakak bersihkan dulu darah mimisan itu lalu istirahat nanti aku buatkan the hangat.” Ujar ku pada kakak ku ini. “Ah… mimisan ini sungguh mengangguku, aku tak apa Caroline, aku akan bersihkan darah ini dulu, setelah itu aku akan teruskan membuat pancake ini.” Ucap kakak ku. “Noo!! Sekarang kakak ke kamar mandi setelah itu ke kamar kakak .” ucap ku final dan di angguki dengan malas oleh kakak ku.

“Kak.. apa kakak sudah mendingan, apa ada yang sakit? Atau kakak merasa pusing?” tanyaku dengan menggebu-nggebu. “Ckkk, kau ini seperti Mama saja selalu cerewet. Aku taka pa sekarang sudah malam sebaiknya kau tidur sebelum Papa dan Mama memarahimu karena kamu belum tidur.” Ucap kakak ku. “hem.. aku ke kamar dulu kak, good night my brother, nice dream.” Kataku dan hanya dingguki kepala dan senyuman nya yang manis. Ketika aku hendak menuju kamar ku, aku mendengar suara Mama yang menangis di ruang keluarga dengan papa, aku penasaran tapi tetap melangkahkan kakiku ke dalam kamar. Sebelum ku tutup pintu kamarku aku mendengar suara Mama berkata pada Kakak ku “saying buka pintu nya, waktunya minum obat.” Ucap Mama ku sambil.. hah..! menahan tangis?, ah… apa maksutnya? Apa kakak ku sakit? Hmm kalau dipikir dengan logika sih kakak ku pasti sedang sakit, karena tadi dia mimisan.
***
Pagi harinya kudapati semua anggota keluargaku sedang menantiku untuk sarapan bersama. “Pagi semua..” ucap ku. “Pagi Caroline..” jawab mereka serempak dengan senyum. “emm.. dek habis ini kita langsung ke kampus kakak ya.. untuk mendaftar lomba” ujar kakak ku di sela-sela makan. “ohh iya, kenapa kok nggak kakak aja, aku kan ingin bersantai di hari Minggu.” Ucap ku dengan sedikit rengekan. “hem.. baiklah kakak akan mendaftarkan sendiri.” Ucap  nya dengan nada yang… malas, Hahaha.. lucu banget sih kakak ku ini. “haha.. kakak lucu banget sih kalo gitu, yaudah aku ikut.” Ucap ku, dan kakak itu lansung mendonggakkan wajah nya dan tersenyum bahagia, sedangkan orang tua kami hanya tersenyum samnbil menggeleng gelengkan kepala.
***

Diperjalan menuju kampus, kakak menyetir dengan hati-hati, karena ini sedang musim salju jadi jalan pada licin semua. “ kak.. nanti kalau menang lomba nya aku di traktir ice cream loh ya….” Ucap ku sambil nada bercanda, “iya.. nanti kakak akan kabulkan permintaan kamu.” Ucap kakak sambil tetap memperhatikan jalan. Keadaan hening sekarang, tapi aku mendengar deruan nafas yang tercekat. Aku langsung menoleh kearah kakak ku, dan Ya Tuhan… kenapa dengan kakak ku “ kak..!! kakak kenapa!? sebaiknya kita  minggir dulu..” ucap ku dengan nada panik.

BRAKK

Tapi naas saat kakak hendak minggir, mobil kami tergelincir, dan menabrak sebuah truk besar yang. Sepertinya sedang menganggkut barang. Dan seketika penglihatan ku menjadi hitam gelap.

Tok.. Tok.. Tok..

Bunyi gedoran pintu mengagetkan ku dari lamunan ku tadi, “masuk” hanya kata itu yang bisa aku ucapkan. “sayang apa kamu sudah siap?” ucap mama ku, kalian pasti berfikir aku akan pergi kemana? Aku ingin mengunjungi makam kakak ku. Dia meninggal beberapa minggu  karna kecelakaan itu, dan aku selamat tapi waktu aku bangun pertama kali, aku tak melihat apapun. Semuanya gelap, aku buta. Tapi itu hanya beberapa hari setelahnya ada orang yang baik hati telah mendonorkan kedua matanya untuk ku, hmm dia kakak ku. Dia sudah tau kalau aku buta dan kata Mama kakak bilang

“ Ma.. hidupku sudah tidak lama lagi, aku akan mendonorkan mata ku untuk adik kecilku, meskipun raga ku tidak ada di antara kalian tapi aku akan tetap di hati kalian dan bagian tubuh ku ada pada adik ku, jagalah Caroline ma..” Dan sekarang aku hanya bisa mengingat kejadian yang sering ku alami bersama kakak ku. Bahakan aku masih ingat pantun abstrak nya yang ia tunjukan padaku. “dek, kakak punya pantun nih dengerin ya.. ekhmm ‘lagi nonton Upin Ipin, Sambil buka puasa dengan nasi, Partikel foton oleh Einstein, Ditentukan panjang gelombang radiasi.’ Gimana dek bagus kan..  ”dan lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum getir mengingat pantun kakak ku yang menyangkut tentang kimia. “Sayang.. sekarang tarulah bunga itu di dekat nisan kakak mu.” Ucap mamaku, dan yah selama perjalan tadi aku hanya melamun. Kakak ku pernah berpesan bahwa. “hidup harus terus berlanjut, jalani dengan baik, layaknya air yang mengalir” dan aku akan membuktikan ucapan Kakak, bahwa aku akan mempergunakan kesempatan kedua ini untuk melihat dunia yang indah walau denngan mata mu Kak. Aku berjanji My Brother.
The End…

“The main porpous of life was to help others. If you can do not help them, at least we do not hurt them”


 karya : Intan Permani