DENDAM SEORANG SISWA
Ting..
ting ting ting ting… ting ting ting..
Ting..
ting.. Ting.. ting…
Alunan piano terdengar sampai seluruh ruang,
ditambah dengan suara petir yang menggelegar, menambah kengerian malam dan
suasana Aula Sekolah. Tepat malam ini, para pihak sekolah menyelenggarakan
upacara suci. Dipimpin oleh sang Master Sun dan diikuti oleh para murid beserta
pengajar disini. Semakin malam suasana semakin mencengkam, banyak roh leluhur
memunculkan dirinya. Memang saat ini upacara ditujukan oleh para roh leluhur,
namun tak disangka, ditengah-tengah acara munculah sosok hantu wanita dengan
menggunakan seragam sekolah tersebut, mungkin alunan piano itu mengundangnya
kesini atau, bisa saja dia terganggu, namun bukan itu alasan sosok itu muncul.
Saat semuanya khusuk mengikuti upacara ini. Para murid dan para guru dikagetkan
dengan munculnya sosok tadi ditengah tengah upacara, dia membantai semua
penghuni di ruang itu, termasuk para roh yang kini lebih memilih kabur kealam
mereka dan hanya beberapa guru dan murid yang selamat dari penyerangan itu
termasuk Master sun yang tengah mencari sesuatu diperpustakaan untuk
mengalahkan sosok hantu yang menyerangnya. Akhirnya kini sosok hantu wanita
berseragam sekolah ini, dipenjara dalam cermin dan cermin itu diletakkan
disebelah piano.
Beberapa hari kemudian setelah kejadian mengerikan
itu, ada murid yang tak sengaja memecahkan kaca itu, ia begitu takut akan hantu
yang keluar dari penjaranya. Namun saat itu juga tak ada yang mencurigakan
setelah kaca itu pecah. Akhirnya sang murid hanya membersihkan serpihan kaca
itu, setelahnya murid itu meninggal secara tak wajar didalam asramanya setelah
memainkan piano yang dulu berdekatan dengan penempatan penjara kaca itu. Tak
hanya murid itu saja, beberapa kali murid yang lain juga tewa akibat memainkan
piano itu.
Kejadian demi kejadian dialami oleh para murid hingga
suatu ketika penerimaan murid baru, semua
menutup rahasia tentan piano itu yang berada di sekolah ini. Kini piano
itu masih tetap pada tempatnya, pernah suatu ketika piano itu dipindahkan,
namun ia kembali ke tempatnya lagi, dan anehnya yang memindah piano itu juga
tewas.
Setelah penerimaan siswa baru dan menjalankan MOS
para sisiwa belajar seperti biasa lagi. Ada salah satu yang memiliki kelebihan
dari yang lain, yaitu bisa mendeteksi, melihat, merasakan, bahkan bisa
berinteraksi dengan makhluk halus. Akankah ia membantu para guru untuk
melenyapkan sosok hantu penunggu piano?.
KRINGG…. KRINGG
“bangun Airin.. kamu nggak sekolah !?” Tanya seorang
gadis muda. “iya.. bentar lima menit lagi Far..” ucap gadis yang berada di
ranjang. “oke kalau kamu gak bangun sekarang. Fiks aku tinggal.” Ucap gadis
bernama Fara. Mendengar hal itu gadis yang bernama Airin langsung bangun dan
menuju kamar mandi. Dan Fara yang melihatnya hanya tersenyum geli melihat
tingkah sahabatnya. Setelah bersiap-siap Farad dan Airin menuju sekolah baru
mereka yaitu sekolah yang dikenal dengan misteri piano. “Far kamu yakin nih
kalau disekolah kita ada misteri piano itu?” Tanya Airin yang kini tengah
berada di dalam kelas. “benar Rin, aku juga udah liat siapa penunggu piano
itu.” Ucap Fara. Ya Fara lah sisiwa yang memiliki kelebihan itu. Ia bertekat
untuk membantu sekolah nya ini dari makhluk itu. “gila.. yang bener kamu?” iya
serius deh. Tapi jangan bilang siapa-siapa dulu aku mau membuktikan.” Kata Fara
dengan menutup buku yang tengah ia baca dan langsung menghadap kearah Airin.
“oke deh aku nggak bilang dulu kesemua, tapi bener kamu mau cari tahu?” Tanya
Airin. “iya bener aku mai cari tahu, kamu temenin aku ya?” pinta Fara dengan
puppy eye. “hadeh.. iya deh, tapi bahaya nggak soalnya kan aku nggak bisa lihat
dia. Dan kemungkinan aku nggak bisa tahu dia nyerang aku.” Ucap Airin. “emm
mungkin aku bisa membuka mata batin mu.” Ucap Fara. Mereka bercakap-cakap hingga
seorang guru datang, dan pelajaran pun berjalan dengan lancar.
Malam ini, setelah tadi pagi mereka membicarakan
tentang hantu piano itu, Airin dan Fara bersiap-siap kembali ke sekolah untuk
menelusuri adanya cerita hantu piano itu. Saat sudah didepan sekolah Fara
dikagetkan dengan banyaknya mayat hidup yang tengah memita tolong pada nya dan
Airin, siapa lagi kalau bukan korban dulu dan korban pembantaian hantu piano
itu. “astaga.. Rin.. disini bener-bener horror !” Ucap Fara dengan melototkan
matanya memandang seluruh penjuru dibelakang gerbang. “yang bener !? ahh aku
gajadi ikut deh, kamu sendiri aja.” Ucap Airin yang sudah mengambil
ancang-ancang untuk kabur, namun dengan sigap Fara memegang tangan Airin jadi
ia tidak bisa kabur. “Aduh.. Far pleass.. lepasin tangan ku, aku gamau mati
disini sumpah.” Ucap Airin dengan tatapan memohon. “ish tunggu, okey kamu nggak
akan aku buka mata batinya, tapi jangan aku tinggalin sendirin !” ucap Fara
sambil melepas genggaman nya. Airin hanya mengangguk dan mereka mengendap-endap
memasuki sekolah.
Setelah mereka masuk, mereka langsung menuju tangga
utama utuk membawanya ke lantai dua. Disana Airin yang sangat tersiksa karena
beberpa kali kakinya ditarik oleh sosok tak kasat mata itu, dan Fara pun
membantu nya hingga sekarang mereka tepat berada dilantai dua. “Far.. kamu
dengar suara alunan piano gak?” Tanya Airin tiba-tiba. “i-iya bener, aku denger
dan init uh jelas banget.” Ucap Fara Agak menutup matanya. “Far kamu kenapa
nutup mata?” Tanya Airin dengan polosnya. “haduh.. mungkin kalau kamu ku buka
mata batinya pasti langsung mutah.” Ucap Fara dengan tersenggal-senggal.
“haduhh yang jelas dong ada apaan?” Tanya Airin yang masih bingung. “ uhh..
disini banyak korban pembantaian dulu, ini lebih parah dari yang hantu piano buat.
Be-be-berapa orang yang memakai ser-ragam yang sama dengan kita, kondisinya
han-hancur, isi per-perut nya keluar se-“ belum selesai bicara, omongan Fara
terhenti karena mendengar suara orang mual-mual. “lohh Airin !? kamu kenapa kok
mual?” Tanya Fara yang kaget dengan kondisi Airin. “ya gimana gak mual ? orang
kamu cerita nya gitu.” Ucapnya sambil meneguk botol mineral bawaanya. Fara
hanya meringis dan melanjutkan misi meraka.
Setelah melawati banyak korban di lorong tadi,
mereka sampai di ruang tempat music, lebih tepanya piano itu berada.
HUSSSYYYY…………..
Kaki mereka kini menapak pada lantai dalam ruangan
itu, seketika angin berhembus ke tengkuk mereka dan membuat mereka merinding.
“uhh.. ini menyiksaku, kau tahu aku mulai merinding dengan hadirnya angin ini.”
Ucap Airin dengan kesal. “hei kau bahkan bisa kesal saat situasi sedang
menegang seperti ini. Dasar.” Ucap Fara. Obrolan mereka terhenti seketika,
karena mendengar suara alunan piano. “ astaga… piano ini berbunti sendiri.. !!”
ucap Airin dengan air muka kagetnya. “ti-tidak Airin.. pi-piano itu a-ada yang
meng-gerak-kan.. !” ucap Fara tak kalah
kagetnya. “hah!? Serius? Astaga.. gimana ini !?” ucap Airin bingung. Jelas
Airin tidak tahu kalau piano itu ada yang menggerakan, karena memang ia tak memiliki
kelibah seperti Fara, dan ia juga tak mau dibuka mata batinya.
“Hahahahaha…” kini tawa itu terdengar dengan jelas ditelinga
Airin dan Fara, mendengar itu Airin menjadi beku seketika ditempat, dan tak
mampu mengatakan apapun. “huh..!! Far.. coba kek kamu deketin itu hantu nya,
siapa tahu kamu dapet informasi.” Ucap Airin yang mulai takut. “yah.. a-aku gak
berani, liat sosok nya aja bikin aku gak bisa jalan, apalagi nanyak ke sosok
nya.” Ungkap Fara yang juga ketakutan. “ye.. kamu bilang bera-“ belum habis
bicara, sosok itu mulai mendekati Airin dan Fara. “Aaaaaaaaaaa !!!”, sontak
mereka berteriak ketakutan karena hantu itu kian mendekat kearah mereka dan
menimbulkan pecahan barang dimana-mana, “apa
yang kalian lakukan disini?!” ucap sosok itu yang didengar oleh keduanya,
meskipun Airian tak melihatnya namun sosok itu memunculkan dengan suaranya.
“Astaga i-itu suara hantu pe-penunggu pi-piano?!” Tanya Airin dengan wajah
ketakutan dan peluh dimana-mana, sama hal nya dengan Fara, dia juga seperti
Airin.
BLARRRRR….
“Aaaaaaaaaaaa!!!”
Seketika pintu tertutup dengan kencang dan
menyisakan jeritan dari dua manusia yang terkurung dalam ruangan itu bersama
ketakutannya. “please ak-u ke-kesini hanya in-ingin me-mengetahui kebe-rada-aan
mu, si-siapa ta-tau ak-aku bi-sa bantu.” Ucap Fara kepada sosok dihadapan nya. “apa maksut kamu ingin mengetahui keberadaan
ku?!” ucap sosok itu dengan murka. “bu-bukan ma-maksut kami, ka-kami ingin
bertanya padamu.” Ucap Faradengan hati-hati. “hah!! Aku sudah cukup menderita
untuk kau tanyai masa lalu ku!” ucap sosok itu dengan sinis. “menderita? Kenapa
kau menderita?” ucap Fara yang kini berani, dan mencoba mendekati sosok itu.
“ak-aku.., Kau !! tidak usah ikut campur!” ucap sosok itu dengan melempar benda
disekitarnya kea rah Airin dan Fara. Fara yang mulai mengerti dengan situasi,
lalu ia dengan segera menghindari serangan dari sosok itu. “tu-tunggu ! aku
bisa membantumu ! tenanglah !” Ucap Fara sambil melindungi Airin yang tengah
pingsan akibat penyerangan pertama. Kini sosok itu lunglai dilantai sambil
menangis. Fara mulai mendekati sosok itu dengan hati-hati. “he-hei kau
baik-baik saja?” ucap Fara pada sosok itu. “hiks.. hiks.. aku tidak baik-baik
saja !” ucap sosok itu. “kau kenapa ?” dengan berhati-hati ia berbicara.
“hiks.. aku menderita… !!” ucap sosok itu. “ceritakan padaku, siapa tahu aku
bisa membantumu.” Ucap Fara. “hah!! Mana mungkin kau bisa membantuku?!” ucap
sosok itu dengan sinis. “aku serius ! aku mungkin bisa membantumu.” Ucap Fara
tak mau kalah. “hah ! baiklah, hiks.. kalau kau tidak bisa membantuku maka
nyawamu sendiri yang akan menjadi taruhanya.” Ucap sosok itu. “ba-baiklah,
sekarang apa penderitaan yang kau alami?” Tanya Fara.
“hiks.. dulu aku
sisiwa disini, aku pintar, aku berbakat. Namun kelebihan yang kumiliki ini
membuat kakak ku sendiri iri kepada ku, kebetulan ia juga murid disini, kakak
ku beserta geng nya sering membully ku secara diam-diam. Mereka selalu
membullyku setelah pulang sekolah, atau istirahat. Suatu hari sekolah ini dapat
penyerangan dari sekolah lain karena sekolah mereka diinjak harga dirinya oleh
sisiwa disini yang mengatas nama kan aku diajang kompetisi piano dulu. Aku yang
mendengar itu shock, tentu saja bukan aku yang melakukan semua itu, itu hanya
perakalan dari kakak ku yang membenci ku. Aku dicaci, aku dihina, bahkan aku
dicambuk pada waktu itu juga oleh para murid disini. aku bahkan mendapat
pukulan fisik sampai akhirnya aku mati, guru-guru yang melihat sempat shock dan
ia takut akan kemarahan ayah ku. Mereka membuang jsad ku di sungai belakang
sekolah ini dan saat itu juga sebelum aku menutup mata yng terakhir, aku dendam
kepada mereka. Dan saat upacara leluhur, aku datang untuk membalaskan dendamku.
Aku bantai mereka semua. Tapi aku terperangkap pada cermin yang diberi jimat
oleh Master Sun, Master Sun adalah kepala sekolah yang dulu juga menjadi kepala
sekolah ku. Dialah ! yang mempunyai ide untuk membuang ku kesungai. Aku ingin
membunuh nya tetapi aku akan perlahan membunuhnya dengan membunuh para
muridnya. Ya.. akulah penunggu piano itu. Dulu aku sering memainkanya. Jadi
sekarang aku lah yang tetap harus memainkannya. Dan cara membalaskan dendam ku
itu gampang, dengan menarik siap saja yang berjalan di lorong ini dengan
memainkan alunan piano. Namun pekerjaan itu membuatku lupa akan tujuan ku
sebernanya, yah.. dendam itu muncul setelah aku memiliki tujuan utuk dihargai
dan meminta jasad ku dikubur dengan layak. Dan aku ingin Master Sun dihukum
seberat-beratnya. !” ucap sosok itu
sambil sesekali menangis, aku dan Airin yang tadi sudah terbangun pun ikut
merasakan kesedihanya.
Keesokanya aku beserta Airin mendatangi Master Sun
untuk membicarakan mengenai sosok itu, Master sun kaget dan ia menceritakan
bahwa memang ia di bayar oleh kakak sosok itu untuk tutup mulut, dan mengenai
pembuangan jasad itu, kakak sosok sendiri itu lah yang menyuruh Master Sun
membuang di sungai. Kini Master Sun menyerahkan dirinya ke pihak berwajib,
sedangkan kakak nya sendiri bunuh diri akibat dihantui oleh adiknya dan
mengakibatkan kegangguan jiwa. Sekarang arwah sosok itu tenang dan tidak
menggagu lagi, dan sekolah pun menjadi tentram dan tak ada lagi kasus
pembullyan.
-Don’t be sitting on feelings, because the
resentment could make us fall into any regrets-
°°°
Tidak ada komentar:
Posting Komentar