Senin, 11 April 2016

Cerpen Ke Dua



DENDAM SEORANG SISWA

Ting.. ting ting ting ting… ting ting ting..
Ting.. ting.. Ting.. ting…
Alunan piano terdengar sampai seluruh ruang, ditambah dengan suara petir yang menggelegar, menambah kengerian malam dan suasana Aula Sekolah. Tepat malam ini, para pihak sekolah menyelenggarakan upacara suci. Dipimpin oleh sang Master Sun dan diikuti oleh para murid beserta pengajar disini. Semakin malam suasana semakin mencengkam, banyak roh leluhur memunculkan dirinya. Memang saat ini upacara ditujukan oleh para roh leluhur, namun tak disangka, ditengah-tengah acara munculah sosok hantu wanita dengan menggunakan seragam sekolah tersebut, mungkin alunan piano itu mengundangnya kesini atau, bisa saja dia terganggu, namun bukan itu alasan sosok itu muncul. Saat semuanya khusuk mengikuti upacara ini. Para murid dan para guru dikagetkan dengan munculnya sosok tadi ditengah tengah upacara, dia membantai semua penghuni di ruang itu, termasuk para roh yang kini lebih memilih kabur kealam mereka dan hanya beberapa guru dan murid yang selamat dari penyerangan itu termasuk Master sun yang tengah mencari sesuatu diperpustakaan untuk mengalahkan sosok hantu yang menyerangnya. Akhirnya kini sosok hantu wanita berseragam sekolah ini, dipenjara dalam cermin dan cermin itu diletakkan disebelah piano.
Beberapa hari kemudian setelah kejadian mengerikan itu, ada murid yang tak sengaja memecahkan kaca itu, ia begitu takut akan hantu yang keluar dari penjaranya. Namun saat itu juga tak ada yang mencurigakan setelah kaca itu pecah. Akhirnya sang murid hanya membersihkan serpihan kaca itu, setelahnya murid itu meninggal secara tak wajar didalam asramanya setelah memainkan piano yang dulu berdekatan dengan penempatan penjara kaca itu. Tak hanya murid itu saja, beberapa kali murid yang lain juga tewa akibat memainkan piano itu.
Kejadian demi kejadian dialami oleh para murid hingga suatu ketika penerimaan murid baru, semua  menutup rahasia tentan piano itu yang berada di sekolah ini. Kini piano itu masih tetap pada tempatnya, pernah suatu ketika piano itu dipindahkan, namun ia kembali ke tempatnya lagi, dan anehnya yang memindah piano itu juga tewas.
Setelah penerimaan siswa baru dan menjalankan MOS para sisiwa belajar seperti biasa lagi. Ada salah satu yang memiliki kelebihan dari yang lain, yaitu bisa mendeteksi, melihat, merasakan, bahkan bisa berinteraksi dengan makhluk halus. Akankah ia membantu para guru untuk melenyapkan sosok hantu penunggu piano?.
KRINGG…. KRINGG
“bangun Airin.. kamu nggak sekolah !?” Tanya seorang gadis muda. “iya.. bentar lima menit lagi Far..” ucap gadis yang berada di ranjang. “oke kalau kamu gak bangun sekarang. Fiks aku tinggal.” Ucap gadis bernama Fara. Mendengar hal itu gadis yang bernama Airin langsung bangun dan menuju kamar mandi. Dan Fara yang melihatnya hanya tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya. Setelah bersiap-siap Farad dan Airin menuju sekolah baru mereka yaitu sekolah yang dikenal dengan misteri piano. “Far kamu yakin nih kalau disekolah kita ada misteri piano itu?” Tanya Airin yang kini tengah berada di dalam kelas. “benar Rin, aku juga udah liat siapa penunggu piano itu.” Ucap Fara. Ya Fara lah sisiwa yang memiliki kelebihan itu. Ia bertekat untuk membantu sekolah nya ini dari makhluk itu. “gila.. yang bener kamu?” iya serius deh. Tapi jangan bilang siapa-siapa dulu aku mau membuktikan.” Kata Fara dengan menutup buku yang tengah ia baca dan langsung menghadap kearah Airin. “oke deh aku nggak bilang dulu kesemua, tapi bener kamu mau cari tahu?” Tanya Airin. “iya bener aku mai cari tahu, kamu temenin aku ya?” pinta Fara dengan puppy eye. “hadeh.. iya deh, tapi bahaya nggak soalnya kan aku nggak bisa lihat dia. Dan kemungkinan aku nggak bisa tahu dia nyerang aku.” Ucap Airin. “emm mungkin aku bisa membuka mata batin mu.” Ucap Fara. Mereka bercakap-cakap hingga seorang guru datang, dan pelajaran pun berjalan dengan lancar.
Malam ini, setelah tadi pagi mereka membicarakan tentang hantu piano itu, Airin dan Fara bersiap-siap kembali ke sekolah untuk menelusuri adanya cerita hantu piano itu. Saat sudah didepan sekolah Fara dikagetkan dengan banyaknya mayat hidup yang tengah memita tolong pada nya dan Airin, siapa lagi kalau bukan korban dulu dan korban pembantaian hantu piano itu. “astaga.. Rin.. disini bener-bener horror !” Ucap Fara dengan melototkan matanya memandang seluruh penjuru dibelakang gerbang. “yang bener !? ahh aku gajadi ikut deh, kamu sendiri aja.” Ucap Airin yang sudah mengambil ancang-ancang untuk kabur, namun dengan sigap Fara memegang tangan Airin jadi ia tidak bisa kabur. “Aduh.. Far pleass.. lepasin tangan ku, aku gamau mati disini sumpah.” Ucap Airin dengan tatapan memohon. “ish tunggu, okey kamu nggak akan aku buka mata batinya, tapi jangan aku tinggalin sendirin !” ucap Fara sambil melepas genggaman nya. Airin hanya mengangguk dan mereka mengendap-endap memasuki sekolah.
Setelah mereka masuk, mereka langsung menuju tangga utama utuk membawanya ke lantai dua. Disana Airin yang sangat tersiksa karena beberpa kali kakinya ditarik oleh sosok tak kasat mata itu, dan Fara pun membantu nya hingga sekarang mereka tepat berada dilantai dua. “Far.. kamu dengar suara alunan piano gak?” Tanya Airin tiba-tiba. “i-iya bener, aku denger dan init uh jelas banget.” Ucap Fara Agak menutup matanya. “Far kamu kenapa nutup mata?” Tanya Airin dengan polosnya. “haduh.. mungkin kalau kamu ku buka mata batinya pasti langsung mutah.” Ucap Fara dengan tersenggal-senggal. “haduhh yang jelas dong ada apaan?” Tanya Airin yang masih bingung. “ uhh.. disini banyak korban pembantaian dulu, ini lebih parah dari yang hantu piano buat. Be-be-berapa orang yang memakai ser-ragam yang sama dengan kita, kondisinya han-hancur, isi per-perut nya keluar se-“ belum selesai bicara, omongan Fara terhenti karena mendengar suara orang mual-mual. “lohh Airin !? kamu kenapa kok mual?” Tanya Fara yang kaget dengan kondisi Airin. “ya gimana gak mual ? orang kamu cerita nya gitu.” Ucapnya sambil meneguk botol mineral bawaanya. Fara hanya meringis dan melanjutkan misi meraka.
Setelah melawati banyak korban di lorong tadi, mereka sampai di ruang tempat music, lebih tepanya piano itu berada.
HUSSSYYYY…………..
Kaki mereka kini menapak pada lantai dalam ruangan itu, seketika angin berhembus ke tengkuk mereka dan membuat mereka merinding. “uhh.. ini menyiksaku, kau tahu aku mulai merinding dengan hadirnya angin ini.” Ucap Airin dengan kesal. “hei kau bahkan bisa kesal saat situasi sedang menegang seperti ini. Dasar.” Ucap Fara. Obrolan mereka terhenti seketika, karena mendengar suara alunan piano. “ astaga… piano ini berbunti sendiri.. !!” ucap Airin dengan air muka kagetnya. “ti-tidak Airin.. pi-piano itu a-ada yang meng-gerak-kan.. !” ucap  Fara tak kalah kagetnya. “hah!? Serius? Astaga.. gimana ini !?” ucap Airin bingung. Jelas Airin tidak tahu kalau piano itu ada yang menggerakan, karena memang ia tak memiliki kelibah seperti Fara, dan ia juga tak mau dibuka mata batinya.
“Hahahahaha…” kini tawa itu terdengar dengan jelas ditelinga Airin dan Fara, mendengar itu Airin menjadi beku seketika ditempat, dan tak mampu mengatakan apapun. “huh..!! Far.. coba kek kamu deketin itu hantu nya, siapa tahu kamu dapet informasi.” Ucap Airin yang mulai takut. “yah.. a-aku gak berani, liat sosok nya aja bikin aku gak bisa jalan, apalagi nanyak ke sosok nya.” Ungkap Fara yang juga ketakutan. “ye.. kamu bilang bera-“ belum habis bicara, sosok itu mulai mendekati Airin dan Fara. “Aaaaaaaaaaa !!!”, sontak mereka berteriak ketakutan karena hantu itu kian mendekat kearah mereka dan menimbulkan pecahan barang dimana-mana, “apa yang kalian lakukan disini?!” ucap sosok itu yang didengar oleh keduanya, meskipun Airian tak melihatnya namun sosok itu memunculkan dengan suaranya. “Astaga i-itu suara hantu pe-penunggu pi-piano?!” Tanya Airin dengan wajah ketakutan dan peluh dimana-mana, sama hal nya dengan Fara, dia juga seperti Airin.
BLARRRRR….
“Aaaaaaaaaaaa!!!”
Seketika pintu tertutup dengan kencang dan menyisakan jeritan dari dua manusia yang terkurung dalam ruangan itu bersama ketakutannya. “please ak-u ke-kesini hanya in-ingin me-mengetahui kebe-rada-aan mu, si-siapa ta-tau ak-aku bi-sa bantu.” Ucap Fara kepada sosok dihadapan nya. “apa maksut kamu ingin mengetahui keberadaan ku?!” ucap sosok itu dengan murka. “bu-bukan ma-maksut kami, ka-kami ingin bertanya padamu.” Ucap Faradengan hati-hati. “hah!! Aku sudah cukup menderita untuk kau tanyai masa lalu ku!” ucap sosok itu dengan sinis. “menderita? Kenapa kau menderita?” ucap Fara yang kini berani, dan mencoba mendekati sosok itu. “ak-aku.., Kau !! tidak usah ikut campur!” ucap sosok itu dengan melempar benda disekitarnya kea rah Airin dan Fara. Fara yang mulai mengerti dengan situasi, lalu ia dengan segera menghindari serangan dari sosok itu. “tu-tunggu ! aku bisa membantumu ! tenanglah !” Ucap Fara sambil melindungi Airin yang tengah pingsan akibat penyerangan pertama. Kini sosok itu lunglai dilantai sambil menangis. Fara mulai mendekati sosok itu dengan hati-hati. “he-hei kau baik-baik saja?” ucap Fara pada sosok itu. “hiks.. hiks.. aku tidak baik-baik saja !” ucap sosok itu. “kau kenapa ?” dengan berhati-hati ia berbicara. “hiks.. aku menderita… !!” ucap sosok itu. “ceritakan padaku, siapa tahu aku bisa membantumu.” Ucap Fara. “hah!! Mana mungkin kau bisa membantuku?!” ucap sosok itu dengan sinis. “aku serius ! aku mungkin bisa membantumu.” Ucap Fara tak mau kalah. “hah ! baiklah, hiks.. kalau kau tidak bisa membantuku maka nyawamu sendiri yang akan menjadi taruhanya.” Ucap sosok itu. “ba-baiklah, sekarang apa penderitaan yang kau alami?” Tanya Fara.
“hiks.. dulu aku sisiwa disini, aku pintar, aku berbakat. Namun kelebihan yang kumiliki ini membuat kakak ku sendiri iri kepada ku, kebetulan ia juga murid disini, kakak ku beserta geng nya sering membully ku secara diam-diam. Mereka selalu membullyku setelah pulang sekolah, atau istirahat. Suatu hari sekolah ini dapat penyerangan dari sekolah lain karena sekolah mereka diinjak harga dirinya oleh sisiwa disini yang mengatas nama kan aku diajang kompetisi piano dulu. Aku yang mendengar itu shock, tentu saja bukan aku yang melakukan semua itu, itu hanya perakalan dari kakak ku yang membenci ku. Aku dicaci, aku dihina, bahkan aku dicambuk pada waktu itu juga oleh para murid disini. aku bahkan mendapat pukulan fisik sampai akhirnya aku mati, guru-guru yang melihat sempat shock dan ia takut akan kemarahan ayah ku. Mereka membuang jsad ku di sungai belakang sekolah ini dan saat itu juga sebelum aku menutup mata yng terakhir, aku dendam kepada mereka. Dan saat upacara leluhur, aku datang untuk membalaskan dendamku. Aku bantai mereka semua. Tapi aku terperangkap pada cermin yang diberi jimat oleh Master Sun, Master Sun adalah kepala sekolah yang dulu juga menjadi kepala sekolah ku. Dialah ! yang mempunyai ide untuk membuang ku kesungai. Aku ingin membunuh nya tetapi aku akan perlahan membunuhnya dengan membunuh para muridnya. Ya.. akulah penunggu piano itu. Dulu aku sering memainkanya. Jadi sekarang aku lah yang tetap harus memainkannya. Dan cara membalaskan dendam ku itu gampang, dengan menarik siap saja yang berjalan di lorong ini dengan memainkan alunan piano. Namun pekerjaan itu membuatku lupa akan tujuan ku sebernanya, yah.. dendam itu muncul setelah aku memiliki tujuan utuk dihargai dan meminta jasad ku dikubur dengan layak. Dan aku ingin Master Sun dihukum seberat-beratnya. !” ucap sosok itu sambil sesekali menangis, aku dan Airin yang tadi sudah terbangun pun ikut merasakan kesedihanya.
Keesokanya aku beserta Airin mendatangi Master Sun untuk membicarakan mengenai sosok itu, Master sun kaget dan ia menceritakan bahwa memang ia di bayar oleh kakak sosok itu untuk tutup mulut, dan mengenai pembuangan jasad itu, kakak sosok sendiri itu lah yang menyuruh Master Sun membuang di sungai. Kini Master Sun menyerahkan dirinya ke pihak berwajib, sedangkan kakak nya sendiri bunuh diri akibat dihantui oleh adiknya dan mengakibatkan kegangguan jiwa. Sekarang arwah sosok itu tenang dan tidak menggagu lagi, dan sekolah pun menjadi tentram dan tak ada lagi kasus pembullyan.

-Don’t be sitting on feelings, because the resentment could make us fall into any regrets-
°°°


Tidak ada komentar:

Posting Komentar